Senin, 18 Maret 2013

Perkembangan Prenatal (Prakelahiran) dan Perkembangan Otak Bayi

Diposkan oleh Dara Suci Amini di 18.55
Pembuahan terjadi ketika satu sel sperma tunggal dari laki-laki bergabung dengan satu ovum (telur) di dalam saluran indung telur perempuan melalui proses yang disebut pembuahan (fertilisasi). 

Perkembangan prakelahiran biasanya dimulai dengan pembuahan dan diakhiri dengan kelahiran, berlangsung selama 166 hingga 280 hari (38 hingga 40 minggu). Rangkaian ini dapat dibagi ke dalam tiga periode: germinal, embrionik, dan fetal. 

Periode Germinal adalah periode perkembangan prakelahiran yang berlangsung selama dua minggu pertama setelah pembuahan. Periode ini meliputi pembentukan telur yang sudah dibuahi (zigot), pembelahan sel, dan pelekatan zigot ke dinding rahim. 

Pembelahan sel pada zigot berlangsung cepat selama periode germinal, pembelahan sel ini berlangsung dengan proses yang disebut mitosis. Kurang lebih satu minggu setelah pembuahan, sel-sel ini mulai melakukan diferensiasi ̶ yaitu, spesialisasi untuk berbagai macam tugas. Dalam tahap ini, sekelompok sel tersebut kini disebut blaktokis, taitu lapisan sel-sel bagian dalam yang akan berkembang menjadi embrio, dan trofoblas, yaitu lapisan sel-sel bagian luar yang nantinya akan menyediakan gizi dan dukungan untuk embrio. Implantasi, yaitu melekatnya zigot ke dinding rahim, terjadi pada kira-kira hari ke-11 hingga ke-15 setelah pembuahan. 

Periode Embrionik adalah periode perkembangan prakelahiran yang terjadi dari dua hingga delapan minggu setelah pembuahan. Selama periode embrionik kecepatan diferensiasi sel meningkat, sistem pendukung bagi sel terbentuk, dan organ-organ mulai tampak. 

Periode ini dimulai ketika blaktokis melekatkan diri pada dinding rahim. Massa sel sekarang disebut embrio, dan ketika lapisan sel terbentuk. Endoderm adalah lapisan dalam sel, yang akan berkembang menjadi sistem pencernaan dan pernafasan. Ektoterm adalah lapisan paling luar, yang akan menjadi sistem saraf, reseptor sensoris (contohnya telinga, hidung, dan mata), dan kulit (contohnya rambut dan kuku). Mesoderm adalah lapisan tengah, yang akan menjadi sistem peredaran, tulang, otot, sistem pembuangan kotoran, dan sistem reproduktif. Setiap bagian tubuh pada akhirnya berkembang dari ketiga lapisan ini. Endoderm terutama menghasilkan bagian dalam tubuh, mesoderm terutama menghasilkan bagian-bagian yang mengelilingi wilayah tubuh, dan ectoderm terutama menghasilkan bagian-bagian di permukaan tubuh. 

Ketika lapisan sel embrio terbentuk, sistem pendukung kehidupan bagi embrio berkembang secara cepat. Sistem pendukung kehidupan ini meliputi amnion, tali pusar (keduanya berkembang dari telur yang dibuahi, bukan dari tubuh ibu), dan ari-ari. Amnion adalah semacam keranjang atau amplop yang berisi cairan bening yang di dalamnya terdapat embrio yang sedang berkembang dan terapung. Cairan amniotik menyediakan suatu lingkungan yang memungkinkan temperatur dan kelembaban dapat terjaga, serta tahan goncangan. Tali pusar (umbilical cord) terdiri dari dua arteri dan satu urat darah halus, yang juga menghubungkan bayi dengan ari-ari. Plasenta (ari-ari) terbentuk dari sekelompok jaringan yang berbentuk seperti piringan, tempat pembuluh-pembuluh darah kecil dari ibu dan bayi saling menjalin namun tidak bergabung. 

Pada saat kebanyakan perempuan menyadari kehamilannya, organ-organ utama telah mulai terbentuk. Organogenesis adalah proses pembentukan organ yang berlangsung selama dua bulan pertama dari perkembangan prakelahiran. Ketika organ-organ sedang terbentuk, organ-organ itu sangat rapuh terhadap perubahan-perubahan lingkungan. Di minggu ketiga setelah pembuahan, terjadi pembentukan saluran neural yang kemudian menjadi urat saraf tulang belakang. Di hari ke-21 mata mulai terbentuk, dan di hari ke-24 sel-sel dari jantung mulai melakukan diferensiasi. Selama minggu keempat, sistem urogenital mulai terbentuk, sementara lengan dan kaki mulai tumbuh. Keempat bilik jantung mulai terbentuk, dan pembuluh-pembuluh darah mulai tampak. Pada minggu kelima hingga kedelapan, lengan dan kaki mengalami diferensiasi lebih lanjut; saat ini, wajah mulai terbentuk namun masih belum terlihat jelas. Alat pencernaan makanan berkembang dan struktur wajah menjadi teratur. Di minggu kedelapan, organisme yang berkembang ini memiliki berat sekitar 1/30 ons dan hanya memiliki panjang 1 inci lebih. 

Periode Fetal adalah periode perkembangan prakelahiran dimulai pada dua bulan setelah pembuahan dan umumnya berlangsung selama tujuh bulan. Selama periode ini, pertumbuhan dan perkembangan melanjutkan rangkaian dramatisnya. 

Tiga bulan setelah pembuahan, panjang janin mencapai 3 inci dan beratnya sekitar 3 ons. Janin semakin aktif, menggerakkan tangan dan kakinya, membuka dan menutup mulutnya, serta menggerakkan kepalanya. Wajah, dahi, kelopak mata, hidung, dan dagu sudah jelas, demikian pula lengan bagian atas, lengan bagian bawah, tangan, serta tungkai dan kaki bagian bawah. Pada kebanyakan kasus, kemaluan dapat diidentifikasi sebagai laki-laki atau perempuan. Pada akhir bulan keempat, janin telah bertumbuh sehingga panjangnya menjadi 6 inci dan beratnya mencapai 4 hingga 7 ons. Pada saat ini, terjadi percepatan pertumbuhan di bagian bawah tubuh. Untuk pertama kalinya, ibu dapat merasakan gerakan-gerakan tangan dan kaki janinnya.

Pada akhir bulan kelima, panjang janin kira-kira mencapai 12 inci dan beratnya dapat mencapai satu pon. Struktur kulit sudah terbentuk ̶ kuku jari kaki dan kuku jari tangan, misalnya. Janin menjadi semakin aktif, memperlihatkan kecenderungan untuk berada di posisi tertentu dalam kandungan. Pada akhir bulan keenam, panjang janin kira-kira 14 inci dan beratnya naik setengah hingga satu pon lagi. Mata dan kelompak mata sudah terbentuk dan terdapat lapisan rambut halus menutupi kepalanya. Refleks menggenggam muncul dan muncul gerak pernapasan yang belum teratur. 

Pada sekitar bulan keenam (sekitar 24 hingga 25 minggu setelah pembuahan), janin untuk pertama kalinya memiliki peluang untuk bertahan hidup di luar Rahim ̶ artinya janin mampu bertahan hidup (viable). Namun, bahkan bayi yang dilahirkan pada bulan ketujuh biasanya membutuhkan bantuan alat pernapasan. Pada akhir bulan ketujuh, panjang janin kurang lebih 16 inci dan beratnya sekitar 3 ons. 

Dalam dua bulan terakhir dalam perkembangan prakelahiran, lapisan atau jaringan lemak berkembang, dan fungsi berbagai sistem organ ̶ seperti jantung dan ginjal ̶ mulai berfungsi. Selam bulan kedelapan dan kesembilan, ukuran janin mulai bertambah besar dan beratnya bertambah ̶ sekitar 4 pon. 

Pembagian perkembangan prakelahiran ke dalam periode tiga bulanan disebut trisemester. Namun, perkembangan ketiga trisemster tersebut tidak sama dengan tiga periode prakelahiran yang telah kita bahas. Periode germinal dan embrionik berlangsung pada trisemeter pertama. Periode Fetal dimulai pada akhir trisemester pertama dan terus berlangsung hingga tri semester kedua dan ketiga. Kelangsungan hidup (peluang untuk hidup di luar Rahim) terjadi pada akhir trisemester kedua. 

Salah satu aspek yang paling luar biasa dalam periode prakelahiran adalah perkembangan otak. Ketika bayi lahir, terdapat kira-kira 100 juta neuron, atau sel saraf, yang menangani pemrosesan informasi pada tingkat selular di otak. Selama perkembangan prakelahiran, neuron menempatkan diri di lokasi yang tepat dan mulai saling berhubungan. Arsitektur dasar dari otak manusia dibentuk selama dua trisemester pertama perkembangan prakelahiran. Dalam perkembangan normal, trisemester ketiga perkembangan prakelahiran dan dua tahun pertama kehidupan pascakelahiran ditandai dengan konektivitas dan pemfungsian neuron. 

Seiring perkembangan otak embrio dalam Rahim ibunya, sistem saraf mulai dibentuk berupa tabung panjang dan berongga yang terletak di punggung embrio. Tabung saraf berbentuk buah pir ini, yang dibentuk kira-kira pada 18 hingga 24 hari setelah pembuahan, dibentuk oleh ectoderm. Tabung ini menutup ujung atas dan bawahnya pada kira-kira 24 hari setelah pembuahan. 

Dua cacat lahir yang berkaitan dengan kegagalan tabung saraf untuk menutup kedua ujungnya adalah anenchephaly dan spina bifida. Wilayah tertinggi dari otak gagal berkembang ketika janin mengalami anenchephaly atau ketika ujung atas tabung saraf gagal menutup, kemudian janin meninggal dalam Rahim, ketika kelahiran, atau tak lama setelah lahir. Spina bifida mengakibatkan kelumpuhan anggota tubuh bagian bawah dalam derajat yang bervariasi. Individu yang mengalami spina bifida biasanya memerlukan alat bantu seperti kruk, penegak, atau kursi roda. Diabetes dan obesitas maternal sama-sama menjadi risiko untuk janin mengalami cacat tabung saraf. Strategi yang dapat membantu mencegah cacat tabung saraf berupa asupan vitamin B asam folik oleh pihak perempuan. 

Dalam kehamilan normal, setelah tabung saraf menutup, proliferasi neuron baru dan belum dewasa dalam jumlah besar dimulai pada kira-kira minggu kelima prakelahiran dan berlanjut selama periode prakelahiran tersebut. Pembentukan neuro-neuron baru ini disebut neurogenesis. Pada puncak neurogenesis, diperkirakan sejumlah 200.000 neuron dibentuk setiap menitnya. 

Pada kira-kira 6 hingga 24 minggu setelah pembuahan, terjadi migrasi neuron. Proses ini meliputi perpindahan sel keluar dari posisi awalnya ke lokasi yang tepat dan membentuk tingkatan, struktur, dan wilayah otak. Setelah sel selesai bermigrasi ke tujuannya, sel harus menjadi dewasa dan mengembangkan struktur yang lebih kompleks. 

Pada kira-kira minggu ke-23 prakelahiran, koneksi antar neuron mulai dibentuk, proses ini berlanjut pada pascakelahiran. 

Teratogen adalah unsur yang berpotensi mengakibatkan kelainan kelahiran atau secara negatif menyebabkan perubahan kognitif dan perilaku. (Kata ini berasal dari kata yunani tera yang berarti monster.) Terdapat begitu banyak teratogens, sehingga praktis setiap janin dihadapkan pada minimum beberapa teratogen. Karena itulah, kita sulit untuk menentukan teratogen mana yang menyebabkan masalah ada janin.Selain itu, efek dari suatu teratogen baru muncul ketika lahir. 

Bidang studi yang menyelidiki penyebab dari kelainan kelahiran disebut teratology. Paparan teratogen mungkin tidak menyebabkan cacat lahir fisik tapi dapat mengganggu perkembangan otak dan memengaruhi fungsi kognitif dan perilaku, sehingga bidang studi ini disebut teratology perilaku. 

Dosis, kerentanan genetik, dan lama paparan teratogen dapat memengaruhi tingkat dan jenis kerusakan yang terjadi pada embrio atau janin: 

Dosis. Efek dosis terlihat cukup jelas ̶ semakin besar dosis suatu unsur, misalnya obat, semakin besar efeknya. 

Kerentanan genetik. Jenis dan tingkat abnormalitas yang disebabkan oleh suatu teratogen berkaitan dengan genotip ibu dan genotip embrio atau janin. Sebagai contoh, bagaimana ibu menjalankan metabolism terhadap suatu obat dapat memengaruhi sejauh mana efek obat itu diturunkan ke embrio atau janin. Genotip embrio atau janin juga memengaruhi sejauh mana kerentanan terhadap suatu teratogen. Juga, dengan alasan yang belum diketahui, janin berkelamin laki-laki jauh lebih mungkin untuk dipengaruhi oleh teratogen dibanding janin berkelamin perempuan. 

Waktu paparan. Ada waktu-waktu tertentu dalam perkembangan yang membuat teratogen menjadi lebih berbahaya. Kerusakan yang terjadi di periode germinal bahkan dapat menghalangi terjadinya implantasi. Secara umum, periode embrionik lebih rentan dibanding periode fetal. 

Kemungkinan paling besar untuk mengalami kecacatan struktural terjadi pada awal periode embrio, ketika organ sedang dibentuk. Setiap struktur tubuh memiliki periode formasi kritisnya sendiri-sendiri. Periode kritis adalah periode waktu yang paling dini dalam masa perkembangan, ketika pengalaman atau peristiwa tertentu dapat memiliki dampak jangka panjang terhadap perkembangan. Periode kritis untuk pembentukan sistem saraf (minggu ketiga) lebih awal dibandingkan untuk pembentukan lengan dan kaki (minggu keempat dan kelima). 

Setelah organogenesis usai, dampak teratogen terhadap cacat anatomis tidak terlalu besar. Meskipun demikian, terdapatnya teratogen selama periode fetal masih dapat menghalangi pertumbuhan atau menciptakan masalah-masalah yang menyangkut fungsi organ. 

Beberapa hal yang dapat menjadi teratogen bagi embrio atau janin: 

Obat-obatan dengan atau tanpa resep. Contohnya antibiotik, anti depresan, pil diet, dll. 

Obat-obatan psikoaktif. Contohnya kafein, alkohol, kokain, heroin, mariyuana, dan metamfetamin. 

Ketidakcocokan jenis darah. Ketidakcocokan antara jenis darah ibu dan jenis darah ayah juga dapat menimbulkan risiko untuk perkembangan prakelahiran. Jenis darah ditentukan berdasarkan perbedaan struktur permukaan sel-sel darah merah. Jenis pertama dari perbedaan di permukaan sel-sel merah menghasilkan kelompok-kelompok darah yang umum ̶ A, B, O, AB. Jenis kedua dari perbedaan ini menghasilkan darah Rh-positif dan darah Rh-negatif. Apabila ciri di permukaan, yang disebut Rh-faktor, terdapat pada sel darah merah individu maka ia disebut memiliki Rh-positif; apabila tidak terdapat ciri Rh, maka individu disebut memiliki Rh-negatif. Apabila seorang perempuan hamil memiliki Rh-negatif dan partner-nya memiliki Rh-positif, janin mereka mungkin memiliki Rh-positif. Apabila darah janin memiliki Rh-positif dan darah ibu memiliki Rh-negatif, sistem kekebalan ibu dapat menghasilkan antibodi yang akan menyerang janin. Hal ini dapat mengakibatkan munculnya sejumlah masalah, meliputi keguguran, atau kematian saat lahir, anemia, penyakit kuning, cacat jantung, kerusakan otak, atau kematian tidak lama setelah bayi lahir. 

Pada umumnya, bayi pertama yang memiliki Rh-positif dari ibu yang memiliki Rh-negatif tidak berisiko. Namun risiko ini akan semakin meningkat untuk setiap kehamilan berikutnya. Sejenis vaksin (RhoGAM) dapat diberikan kepada ibu selama tiga hari kelahiran, untuk mencegah tubuh ibu membuat antibodi yang akan menyerang Rh-positif janin di masa depan. Selain itu, bayi yang terkena Rh yang tidak sesuai dapat diberi tranfusi darah sebelum atau segera setelah lahir. 

Bahaya Lingkungan. Banyak aspek dunia industri modern kita yang dapat membahayakan embrio atau janin. Beberapa bahaya yang mungkin dialami bayi adalah radiasi, sampah beracun, dan polutan kimiawi lainnya. 

Penyakit pada ibu. Penyakit dan infeksi pada ibu dapat mengakibatkan cacat keturunan karena penyakit atau infeksi itu menembus batas ari-ari, atau juga dapat mengakibatkan cacat ketika lahir. Beberapa contoh penyakit yang di maksud adalah, Rubella, sifilis, herpes genital, AIDS, diabetes, dll. 

Faktor-faktor lainnya yang terkait orang tua:
Diet dan gizi ibu di masa kehamilan. Embrio atau janin yang sedang berkembang akan sepenuhnya bergantung pada gizi ibu, yang diperoleh melalui darah ibu. Status gizi embrio atau janin ditentukan oleh total konsumsi kalori selain konsumsi protein, vitamin, serta mineral. Anak-anak yang dilahirkan oleh ibu yang mengalami kekurangan gizi akan memiliki kemungkinan cacat yang lebih besar dibandingkan anak-anak yang dilahirkan oleh ibu dengan gizi cukup. 

Usia ibu. Apabila usia ibu dianggap sebagai faktor yang mungkin membahayakan janin dan bayi, maka dua periode waktu yang amat penting untuk diperhatikan adalah masa remaja dan usia 35 tahun ke atas. 

Kondisi dan ketegangan emosional ibu. Ketika seorang perempuan hamil merasa takut, cemas, dan emosi-emosi lain yang mendalam, terjadi perubahan fisiologis yang dapat memengaruhi kondisi janin. Seorang ibu yang tegang akan secara tidak langsung juga dapat memengaruhi janin melalui perilaku tidak sehat, contohnya dengan menggunakan obat-obatan terlarang atau kurang melakukan perawatan prakelahiran. 

Faktor-faktor paternal. Sampai sejauh ini, kita telah mendiskusikan bagaimana karakteristik ibu dapat memengaruhi perkembangan janin dan anak. Apakah selain itu terdapat risiko paternal? Jelas ada. Pria yang terpapar timah, radiasi, pestisida jenis tertentu, petrokimia, dan rokok dapat mengalami abnormalitas sperma yang selanjutnya mengakibatkan cacat atau penyakit pada embrio atau janin.

0 komentar:

Poskan Komentar

 

ZONE OF MINE Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos